Terjemahan :
(شهدان ) lagi barang siapa puasa sebulan ramadan itu di kabulkan allah taala segala doa nya
Adalah perkataan ini di pindahkan dari pada kitap ihya ulumuddin
Penjelasan :
Kitab Ihya Ulumuddin (إحياء علوم الدين) yang berarti "Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama" adalah karya master/paling monumental dari Imam Abu Hamid al-Ghazali (yang bergelar Hujjatul Islam). Kitab ini ditulis pada abad ke-11 Masehi (sekitar akhir abad ke-5 Hijriah) dan diakui sebagai salah satu karya spiritual terbesar dalam sejarah peradaban Islam.
Berikut adalah rangkuman sejarah penulisan, latar belakang, dan struktur kitab Ihya Ulumuddin:
1. Latar Belakang Penulisan
Sebelum menulis Ihya, Imam al-Ghazali adalah seorang ulama besar mutakallimun (ahli teologi) dan fikih, serta menjadi rektor/guru besar di Madrasah Nizhamiyah, Baghdad—pusat intelektual dunia Islam kala itu. Ia memiliki popularitas, kekayaan, dan pengaruh politik yang sangat besar.
Namun, di puncak kariernya, beliau mengalami krisis spiritual (existential/spiritual crisis). Beliau merasa ilmu-ilmu yang dikejar manusia saat itu (termasuk dirinya) cenderung demi perdebatan, popularitas, dan kekuasaan, bukan murni karena Allah. Beliau juga melihat kondisi masyarakat dan para ulama waktu itu (al-mutarassimun) hanya fokus pada aspek formalitas hukum (kulit luar agama) tanpa mempedulikan kesucian jiwa dan esensi ibadah (ruh agama).
2. Masa Pengembaraan (Uzlah)
Pada tahun 489 H (1095 M), Imam al-Ghazali memutuskan untuk meninggalkan segala kemewahan dan jabatannya di Baghdad. Beliau melakukan uzlah (mengisolasi diri), hidup zuhud sebagai pengembara, dan mendalami jalan tasawuf untuk membersihkan jiwa.
Proses penulisan Ihya Ulumuddin terjadi selama masa pengembaraan batin ini:
Dimulai di Yerusalem (Al-Quds), Palestina: Ahli sejarah mencatat beliau mulai mencurahkan isi kitab ini di sebuah ruangan dekat Masjid Al-Aqsa.
Dilanjutkan di Damaskus, Suriah: Beliau tinggal di menara barat Masjid Jamik Al-Umawi untuk merenung, beribadah (mujahadah), dan melanjutkan menulis.
Selesai di Thus, Iran: Kitab ini akhirnya rampung setelah beliau melakukan perjalanan panjang ke Makkah, Madinah, hingga kembali ke tanah kelahirannya di Thus. Proses penulisan dan penyempurnaan kitab ini memakan waktu bertahun-tahun selama masa pengasingan dirinya (yang total berlangsung sekitar 10 tahun).
3. Struktur dan Isi Kitab
Imam al-Ghazali menyusun Ihya Ulumuddin ke dalam 4 bagian besar (Rubu'), di mana setiap bagian terdiri dari 10 bab. Struktur ini dirancang secara sistematis untuk menuntun pembaca dari pemahaman dasar keagamaan menuju puncak kesucian spiritual:
4. Pengaruh dan Warisan Sejarah
Kitab Ihya Ulumuddin berhasil menyatukan dua kutub yang sempat tegang pada masa itu: Syariat (Fikih) dan Hakikat (Tasawuf). Al-Ghazali berhasil membuktikan bahwa tasawuf yang benar tidak boleh keluar dari koridor syariat Al-Qur'an dan Sunnah, sementara fikih tidak boleh kering tanpa adanya tasawuf (pembersihan hati).
Meskipun dalam sejarahnya kitab ini pernah menuai kritik dari sebagian ulama karena memuat beberapa hadis yang dinilai lemah (dhaif), kontribusi spiritualnya diakui secara universal. Ulama hadis seperti Al-Hafiz Al-Iraqi kemudian hari melakukan takhrij (verifikasi dan penyaringan hadis) terhadap kitab Ihya agar validitasnya semakin terjaga. Hingga saat ini, Ihya Ulumuddin tetap menjadi bacaan wajib di pesantren, universitas Islam, dan majelis taklim di seluruh dunia dalam membentuk akhlak manusia.
English :
The Kitab Ihya Ulumuddin (إحياء علوم الدين), which translates to "The Revival of the Religious Sciences," is the magnum opus of Imam Abu Hamid al-Ghazali (commonly revered as Hujjatul Islam or the Proof of Islam). Written in the 11th century CE (around the late 5th century AH), this book is widely recognized as one of the greatest spiritual masterpieces in Islamic civilization.
The Ihya Ulumuddin successfully reconciled two fields that had grown deeply polarized at the time: Sharia (Jurisprudence) and Haqiqa (Sufism). Al-Ghazali demonstrated that authentic Sufism cannot exist outside the boundaries of the Quran and Sunnah, while jurisprudence remains hollow without spiritual purification.
Although the book historically faced scrutiny from certain scholars for containing several weak (dhaif) hadiths, its spiritual and psychological contributions are universally acknowledged. Later, prominent traditionists like Al-Hafiz Al-Iraqi undertook the takhrij (rigorous verification and sourcing of hadiths) of the Ihya to preserve its academic validity. To this day, Ihya Ulumuddin remains a cornerstone text in traditional Islamic boarding schools (pesantren), Islamic universities, and spiritual circles worldwide.
Catatan :
selain kitap tahfah dan nihayah dalam naskah kitap juga disebutkan bersumber dari kitap ihya Ulumuddin terutama dalam bab puasa. oleh karena itu untuk bahan kajian dan penjelasan. kami merasa perlu untuk menkaji dan membahas sedikit tentang kitap ihya ulumadın dan penjelasan tentang isi kitap ihya ulumuddin semoga bermamfaat bagi kita semua.

Post a Comment