Aku terus mengajar dia dengan tangisan tersedu sedu . Aku ingin memeluk dia yang saat hidup aku malu memeluknya. Aku ingin mencium dia yang saat hidup aku mencari jarak dengan nya. Aku memilih tinggal dan hidup dari satu dayah ke dayah lain dan jarang pulang ke desa terkadang saat pulang hanya sekedar melepas rindu dengan keluarga saja dan aku kembali ke kehidupan ku di antara bilik dayah dan buku buku lusuh di sekolah rakyat.
Dalam mimpiku Dia masuk ke dalam rumah aceh. Rumah warisan nenek kami. Tempat kami beramain saat Kecil dulu. Aku mengikutinya di belakang, aku melihat atap nya sudah bocor, dan barang barang berserakan tak terurus. Aku masih mengejar Dia. Dan menangis tersedu sedu memanggil nya. Lalu Dia masuk kesalah satu pintu dan menghilang . Aku mencoba melihat pintu sebelah nya bisa turun ke dapur akan tetapi pintu yang dia masuki tembus ke langit dan tertutup rapat tidak bisa aku buka.
Ya rabb.... Dausa apa yang sangat besar pada hamba mu hingga siksa batin ini sangat besar dan aku ingin sekali mengikuti Dia. Aku sudah lelah dan ingin pergi ke pintu itu bersama Dia tapi dia berlari seolah tau aku ingin ikut bersama dia menemui dia dan semau yang tercinta.
Dalam tangisan yang memecahkan malam aku di kejutkan oleh suara azan di Hanphonku. Tidak seperti biasa malam ini aku langsung terduduk dan tunduk merintih menahan sakitnya rindu. Aku tidak pernah merindukan sesuatu karena bila aku dalam sadar aku menghabiskan waktu dalam ismut dzat dan hatiku tidak pernah gusar walau satu persatu orang yang ku cintai pergi menghadap tuhan.
Aku lumrah besedih sebagai manusia dan menangis sebagi insan yang belum mati rasa tapi tidak seberat beban hari ini , selama hidupku yang telah berlalu hampir 40 tahun hari inilah aku menemukan titik terberat dalam perasaan yang tidak bisa aku melupakan nya seumur hidupku.
Aku belum mau Bangkit dari duduk , tiba-tiba dering telponku berbunyi. Aku menguatkan diri dan menyembunyikan semuanya , seseorang menelpon dari tempat kerja. Sudah saat nya shalat subuh. Sudah menjadi kebiasan sahabatku walau sesibuk apapun sahabatku akan menelpon mengingatkan waktu shalat subuh dan sahabatku Siap-siap berangkat Kerja. Bukan hanya hari ini tapi jauh sebelum kami belum bekerja bersama . Sudah sering sahabatku menelpon saat shalat subuh kadang lebih awal agar bisa shalat tahajjut. Karena dia lebih tau kalau urusan bangun agak terganggu karena malam - malam biasa aku menghabiskan dengan membaca , menulis sambil minum kopi dan tidur kalau tertidur. Maka jadi rutinitas tidur pas hendak subuh (*)

Post a Comment