Seperti jumat sebelumnya. Jumat ini tanggal 11 November 2050 M , Gubernur Atjeh 2050 sedang jogging pagi jumat mengelilingi halaman rumahnya sambil menemani anak-anak pengajian gotong royang, seperti kita ketahui bahwa jumat adalah hari libur Nanggroe semenjak berlakunya qanun syariat islam . tiba-tiba ,,, dorrrr…. Gubernur di serbu oleh cucu-cucu nya. Tanpa bisa mencari alasan mereka duduk di taman rumah nya sambil melanjutkan cerita jumat yang lalu

------------------

Sekarang  adalah tahun ke tahun ke-18 Kerajan Jeumpa ( 68 H / 718 M /  ).  Raja Syahri Tanwi Yang merangkap sebagai PM Jeumpa melepas rombongan dari keurajaan Jeumpa untuk mulai bergerak menuju Kebarat Mulai dari wilayah samalanga , Wilayah Meuredu , Wilayah pidie dan wilayah Lamuri sedangkan Ke Timur mereka singgah di wilayah Peusangan,wilayah Pase' dan perelak  Sebelum kita ceritakan kisah peresmian wilayah ini baik nya kita akan melihat sedikit kebelakang setahun yang lalu kisah meuseuraya seperti pernah kami singgungkan pada bab 3 musafir yang lalu.

Pada tahun ke 15 kalender  Kerajaan Jeumpa yang lalu di kiremlah untuk meuseraya keu wilayah Samalanga dimana wilayah - wilayah ini sudah di peuga oleh para sisa veteran perang yang tidak kembali ke pusat kerajaan Jempa. Kabar ini di dapat saat pesta khanduri perkawinan Keluarga Kerajaan. Dan wilayah Samalanga yang dulu jadi benteng perang sudah berubah jadi pemukiman penduduk, anak-anak mereka di kirim ke Jeumpa untuk meudagang belajar agama dan sekolah madrasah dengan menempuh jalur darat yang sudah di rintis sejak masa perang beberapa tahun yang lalu.

Raja Syahri Tanwi memberikan pada Keluarga mereka yang meuseraya wilayah Barat dengan satu kapal dan singgah pertama di Samalanga , meuredu , Pidie dan Lamuri karena rombongan meuseraya ini adalah mantan panglima perang mereka sudah tau dan mampu membuka jalur akses antara wilayah hingga jalan darat berhasil di hubungkan dari Jeumpa  - samalangan - meuredu - Pidie dan Lamuri.

Alkisah Yang Pertama mereka singgah disamalanga memilih bate iliek sebagai Benteng Persinggahan Sedangkan wilayah pesisir di kelola oleh malem dagang mantan perwira perang Jeumpa yang tidak kembali ke pusat kerajaan. Dalam persinggahan ini utusan kerajaan jeumpa sepakat menjadikan Bate iliek mejadi wilayah pertama yang mengembangkan wisata meuramin supaya nanti warga Jeumpa dan para pembesar bisa jak meuramin ke bate iliek , ini merupakan negeri baru yang harus berhasil di kembangkan. Demikian hasil hasil muafakat dan Rombongan meuseuraya mempercayakan wilayah samalanga ini kepada salah seorang anak raja Salman yaitu adik dari Syahir tanwi yang bernama Syahri Tanti Dengan Perdana Mentri Malem Dagang menjadikan samalanga sebagai wilayah otonom sendiri.

Setelah beberapa jum'at berlalu dan pemerintah baru sudah stabil maka dengan segala persiapan dengan kapal layar para rombangan menuju ke wilayah Meuredu dengan meninggalkan Syahri Tanti  dan keluarga sebagai penguasa samalanga , Perlahan namun pasti para rombongan anak - cucu Raja salman berlayar dengan terget selanjutnya pelabuhan mereudu. 

Untuk wilayah Meureudu berlaku hal demikian mereka memilih tinggal di pesisir sebagai Bandar dagang Kemudian Syech Japakeuh Anak Raja Syahri Tanwi  sekaligus cucu dari Raja Salman dari beserta kafilah dagang yang singgah sebagaian mencari lokasi Strategis yaitu kuta rentang dan kuta bate' sebagai pintu masuk dan Blang awe sebagai puasat kerajaan. mereka memilih mendirikan pemukian disana karena di pesisir sudah ada pemukiman orang dayah Kleng dan pedagang semenanjung yang di kuasai oleh kerajaan Pidie.

kemudian Kuta bate ini menjadi cikal-bakal kerajan Meuredu yang idependent dari kerajaan lain bahkan jauh setelah pidie dan jeumpa runtuh mereudu masih bertahan sebagai wilayah otonomi di bawah kerajaan Aceh darussalam yang di pimpin oleh tgk Japakeh selanjutnya. bahkan setelah menjelang merdekan dan pada awal merdeka meredu masih bertahan di bawah perintah Geusyik Gade Lancok setelah beliau meninggal semua kekuasan dan harta di bagikan kepada wali karena tidak memiliki anak laki-laki dan meuredu runtuh tunduk pada pidie. baru setelah 50 tahun merdeka mereudu bangkit kembali sebagai kebupaten pidie jaya di bawah intruksi Bupati Gade salam simpang lhee. 

kita kembali ke kafilah meuseuraya, Para kafilah dari jeumpa kemudian mereka berlayah menuju Pidie . Untuk wilayah Pidie para Kafilah meuseraya sepakat wilayah ini di tempati oleh Syahri Poli serta keluarga dan sebahagian rombangan dagangnya yang  Meuseraya singgah disana. Setelah bebrapa Minggu mereka di Pidie kemudian mereka mendirikan Bandar dagang dengan lokasi diS igli. disinimenjadi cikal-bakal kerajaan mereka.

Ternyata Perjalan ini belum berakhir masih ada satu keluarga dari dari anak keluarga raja salman, Syahir Duli namanya . beliau berserta keluarga dan rombangannya berlayah melanjutkan ke wilayah baru bernama Lamuri . setelah satu jumat perjalanan mereka tiba di pelabuhan krueng raya. tempat inilah yang kelak di tempati oleh Syahir Duli. Alkisah Syahir Duli  meminta Pada Raja Lamuri mendirikan mukim baru yang idependent dan raja lamuri pun setuju. kelak pemukiman ini terkenal dengan nama kerajaan Indri pura di indra puri jauh dari keraan lamuri kepedalaman. maka selsailah meuseuraya ke wilayah barat dengan Syahir Duli sebagai rombongan terakhir.

Sedangkan Untuk kepal wilayah timur Raja Syahri Tanwi mengutus beberapa kafilah kewilayah baru. mereka Pertama singgah di wilayah Pase', yang di pimpin oleh Syahri Dito. Beliau bersama keluarga dan pengawalnya membuka mukim baru disana. 

Beberapa jumat kemudian keluarga lain terus bermeuseraya ke wilayah timur yang di lanjutkan oleh Syahri Nawi dan adiknya  Makhdum Tansyuri Setelah hampir satu jumat berlayar mereka sampai di sebuah wilayah yang bernama cot kala dan berlebuh di kuala League mereka membuka pemukiman baru bernama pereulak. 

Lama berlalu sehingga pelabuhan Pereulak menjadi maju dan pada abad ke II Hijriah ( tahun- 173H/790M ) atau abad ke 8 M. Secara resmi oleh Khalifah Abbasiah Harun Al Rasyid mengirimkan satu angkatan dakwah yang diberi nama Nahkoda Khalifah yang berjumlah 100 orang terdiri dari bermacam-macam ahli. Khalifah mengangkat putranya Al Makmun menjadi kapten kapal, mereka yang mendarat di bandar khalifah Peurelak yang sekarang bertempat di kampung Paya Meuligou Peurelak Aceh Timur.


Dalam rombongan Nahkoda Khlifah ikut serta seorang bangsawan Quraisy yaitu Ali Al-Muktabar bin Saidina Muhammad Addiba’i bin Saidina Ja’far As Siddiq bin Saidina Muhammad Baqir bin Ali Muhammad Zainal bin Husin bin Ali bin Abi Thalib. Dan ketika Datang ke Negeri Peurelak oleh Maharaja Shahir Nuwi di kawinkan dengan adiknya putri Makhdum Tansyuri. Dalam perkwinan tersebut lahirlah seorang putra bernama Sayed Maulana Abdul Aziz Syah.


Post a Comment

Previous Post Next Post