“Juli achir sekolah di mulai, mau tidak kamu mengantikan bapak mengajar untuk 3 bulan ke depan karena Bapak ada bisnis antar kabupaten untuk membiayai sekolah anak-anak di kota, gaji saya tidak cukup untuk beaya sekolah 3 anak saya apalagi mereka di kedokteran,
keperawatan dan technik “ beliau mencurahkan keluh kesahnya . Beliau guru senior dan saudara saya.
Beliau mengambil moment saat saya sedang duduk santai di depan dayah di depan guru saya. Tempat sekarang saya berlindung setelah kembali dari kota. Untuk tinggal di rumah sebenarnya aman saja karena saya tinggal di kawasan perkotaan walau kota kecamatan, tapi namanya juga zaman perang. Imbasnya pasti ke siapa saja yang lalu lalang walau yang bersalah yang di cari ada di rimba tuhan dalam girilyanya.
“Bagimana , klo siap besok senin hari pertama sekolah, saya antarkan ke kepala sekolah kita tanda tangan perjanji untuk 3 bulan. Bisa membantu kamu juga tinggal di dayah untuk uang kopi” lanjutnya meyakinkan saya. Kemudian Guru saya yang juga kawan akrab beliau memberi nasehat “ tujuan sekolah untuk Mengajar jadi tidak ada alasan untuk tidak mengajar “ nasehat guru saya membuat saya tidak bisa menolak tawaran mengajar pertama di tahun 2002 yang lalu.(*)

Post a Comment